Written piece
Benang Yang Pulang / The Thread Returns
Nadzri Nurzusilawati
Malaysia
About this piece
Original
Sebuah karya dari Malaysia yang menganyam batik terap, ingatan dan bahasa. Melalui lilin, ulangan dan warna, ia menelusuri bagaimana identiti mengembara ke dunia, namun akhirnya kembali ke asal—pada suara, warisan dan rumah.
English translation
A Malaysian piece weaving batik craft, memory, and language. Through wax, repetition, and colour, it explores how identity travels outward yet returns home—where voice, heritage, and belonging are reclaimed.
Benang Yang Pulang
Di bangsal kayu yang bernafas perlahan,
ibu membentang kain seperti membentang masa.
Tangannya memegang blok—
ukiran bunga yang lebih tua daripada aku,
lebih tua daripada kota yang sedang aku kejar.
Lilin panas menitis seperti ingatan.
Setiap cap adalah degup—
tak tergesa, tak pernah lupa arah.
Di luar,
suara azan jatuh ke laut,
bercampur bunyi kapal nelayan yang pulang
dengan tubuh asin dan mata letih.
Aku berdiri di antara dua dunia:
satu berbau lilin dan pewarna,
satu lagi berbau kertas, pentas, dan bahasa asing.
Aku pernah membaca puisiku dalam bahasa yang jauh—
kata-kata yang aku pinjam
untuk menjahit dunia yang lebih luas.
Mereka tepuk tangan.
Mereka faham.
Mereka kagum.
Tapi ibu hanya diam.
Tangannya yang kasar
menyentuh jari-jariku yang halus oleh pena.
“Kenapa tidak dalam bahasa kita?”
“Ibu tak faham.”
“Jangan lupa—
budaya kita hidup pada lidah sendiri.”
Waktu itu aku sedar—
aku chop dan mewarnai dunia,
tapi melupakan rumah.
Aku sibuk mengecap corak pada kain orang lain,
hingga corak pertama dalam darahku
aku biarkan pudar.
Di bangsal yang sama,
aku kembali belajar membaca tanpa huruf—
membaca dari bau lilin,
dari warna yang meresap perlahan,
dari tangan ibu yang tidak pernah menulis
tapi menyimpan seluruh cerita.
Setiap cap bukan sekadar corak—
ia adalah ingatan yang dipindahkan,
dari tangan ke kain,
dari ibu ke anak,
dari kampung ke dunia.
benang bukan hanya yang dijahit—
ia juga yang dicairkan menjadi lilin,
ditekap berulang kali,
lalu diwarnai hingga hidup.
Kini aku faham:
dunia tidak memerlukan seluruh suaraku—
cukup satu corak yang jujur
yang tahu dari mana ia bermula.
Maka aku bentangkan kainku sendiri.
Aku cap dengan tangan yang pernah lupa,
aku warnai dengan bahasa yang pernah aku tinggalkan.
Dan di antara azan dan bunyi laut,
aku akhirnya pulang—
bukan ke tempat,
tetapi ke suara.
English translation
BATIK TERAP: THE THREAD RETURNS
In a wooden shed that breathes slowly,
my mother lays out cloth
the way one lays out time.
Hot wax gathers at the edge of a block—
pattern older than the cities I am chasing.
Press. Lift. Press again.
A pulse that does not forget its direction.
Outside,
the call to prayer leans into the sea,
and fishing boats return
with salt in their bones.
I stand between two rooms:
one smells of wax and dye,
the other of paper, stage lights,
and a borrowed tongue.
I once read my poem
in a language that travels far—
words I borrowed
to stitch a wider world.
They applauded.
They understood.
They admired.
My mother did not.
Her work-rough hands
found my wrist,
as if catching something
about to slip away.
“Why not in our language?” she asked.
“I cannot follow.”
“Let the world know us—
but do not lose your own voice.”
That was when I knew—
I had been printing and colouring the world,
while forgetting home.
I kept pressing patterns onto other cloths
until the first pattern in my blood
began to fade.
In the same shed,
I learn again to read without letters—
through the scent of wax,
through colour entering slowly,
through hands that never wrote
yet held entire stories.
Each print is not a design—
it is memory transferred:
hand to cloth,
mother to child,
village to world.
A thread is not only stitched—
it is melted into wax,
pressed again and again,
and only then allowed to receive colour.
Now I understand:
the world does not need all of my voice—
only one honest pattern
that knows where it began.
So I lay out my own cloth.
I press with hands that once forgot,
I colour with a language I almost left behind.
And between the call to prayer and the sea,
I return—
not to a place,
but to a voice.